Rabu, 03 Februari 2010

Pengertian Filsafat Bahasa


Bab I
Pengertian Filsafat Bahasa

A. Pendahuluan
Filsafat bahasa hadir dalam dunia filsafat merupakan pendatang baru. Filsafat bahasa baru berkembang sekitar abad XX setelah munculnya linguistik modern yang dipelopori oleh tokoh strukturalis yaitu Mongin Ferdinand de Saussure (1857-1913). Sebenarnya perhatian para filsuf terhadap bahasa telah berlangsung lama, yakni sejak zaman prasocrates, yaitu ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. Namun, dalam perjalanan sejarah aksentuasi (titik tekan) perhatian filsuf berbeda-beda dan sangat bergantung pada perhatian dan permasalahan filsafat yang dikembangkannya.
Filsafat bahasa merupakan salah satu cabang filsafat yang mengandalkan analisis penggunaan bahasa karena banyak masalah-masalah dan konsep-konsep filsafat yang hanya dapat dijelaskan melalui analisis bahasa karena bahasa merupakan sarana yang vital dalam filsafat.
Filsafat bahasa merupakan studi filsafati berdasarkan nilai apriori atau aposteriori dari bahasa dan bagaimana bahasa itu dijadikan sebagai alat komunikasi. Filsafat bahasa sebagai studi analisis filsafati, pemaknaan bersifat objektif dan subjektif. Bersifat objektif, apabila makna yang diungkap merupakan makna yang dikandung secara leksikal/denotasi dalam sebuah wacana lisan atau tulisan. Bersifat subjektif, apabila makna yang diungkap ada dalam mata si pembaca dan merupakan makna kontekstual, yaitu apa yang ada di balik makna kata tersebut/konteks.  

B. Pengertian Filsafat
1. Secara Etimologi
Secara etimologi, istilah filsafat merupakan derivasi dari kata “falsafah” (bahasa Arab) yang diadopsi dari bahasa Yunani, yaitu dari kata “Philoshopia” yang terbentuk dari dua kata; “philien/philo” yang berarti cinta dan “shopia” yang berarti kebijaksanaan; pengetahuan. Secara etimologi filsafat berarti cinta kebijaksanaan dan orangnya disebut “filosof”. Orang yang pertama kali memakai kata “filsafat” adalah Phytaghoras, filosof Yunani (582-496 SM).

Secara etimologis filsafat berarti :
1.                  cinta akan kebenaran
2.                  suatu dorongan terus-menerus untuk mencari dan mengejar kebenaran

2. Secara Terminolagi
Pengertian Filsafat dari beberapa ahli adalah sebagai berikut.
a. Kamus Besar Bahasa Indonesia  (1997:227)
1).       Teori atau analisis logis tentang prinsip-prinsip yang mendasari pengaturan, pemikiran, pengetahuan, dan sifat alam semesta
2).       Prinsip-prinsip umum tentang suatu bidang pengetahuan
3).       Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi
4).       Suatu cara berpikir yang radikal, menyeluruh, dan mengupas sesuatu sedalam-dalamnya
Akal budi adalah mencakup keseluruhan kemampuan yang spesifik manusiawi, yakni daya cipta, karsa, dan rasa. Filsafat mengkaji hakikat segala yang ada di dunia ini, baik dari manusia maupun sendiri maupun benda di sekitarnya.

b. Plato (427-347 SM):
Plato (427sm – 347 SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli). Filsafat adalah ilmu yang berbicara tentang hakikat sesuatu.

c. Aristoteles (Murid Plato)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi logika, matematika, metafisika, fisika, dan pengetahuan praksis.
Aristoteles (384 sm – 322sm) mengatakan : filsafat adalah ilmus pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).

d. Marcus tullius cicero (106 sm – 43sm), politikus dan ahli pidato Romawi.
Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.

e. Al-Farabi (Filosof muslim terbesar sebelum Ibnu Sina yang meninggal 950 M)
Filsafat adalah ilmu:yang bertugas untuk mengetahui semua yang ada karena ia ada. Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.

f. Imanuel Kant (1724-1804), filosof abad renainses dari Jerman:
Filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai pokok pangkal dari segala perbuatan dan pengetahuan. Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: ” apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika) ” apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika) ”sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi).

g. Prof. Dr. Fuad hasan, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia
Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan.

h. Bertrand Russel:
Filsafat ialah kegiatan berpikir kritis yang bersifat serius. Fungsi filsafat bagi Russel sebagai pengkritik pengetahuan, mengkritisi asas-asas ilmu pengetahuan. Ia mengatakan filsafat adalah menjawab pertanyaan tinggi (sulit) yang tidak dapat dijawab oleh sains. Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains.

i. William James:
Filsafat adalah kumpulan pertanyaan yang belum terjawab oleh sains secara memuaskan.

j. Fung Yu Lan:
Filsafat adalah pikiran sistematis dan merupakan refleksi tentang kehidupan.
Dalam khazanah keilmuan Islam pengertian filsafat disejajarkan dengan pengertian “Hikmah”. Bagi dunia Islam filsafat adalah hikmah itu sendiri. Seperti yang dikatakana oleh Ibn Abbas hikmah adalah ucapan yang rasional yang dipelihara oleh kekuatan empirik. Meskipun pengertian filsafat yang diberikan oleh para ahli filsafat baik Barat maupun Timur, klasik maupun modern berbeda-beda, namun dari semua definisi tersebut dapat diambil kesimpulan yang mengarahkan pada kesamaan pengertian filsafat:
1. filsafat merupakan proses pencarian kebenaran.
2. filsafat merupakan proses berfikir yang mendalam
3. filsafat adalah pencarian hakikat dari sesuatu hal yang ada.

Simpulan:
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam, sungguh-sungguh, dan radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.

C. Apakah Berfilsafat itu?
Berfilsafat berarti:
1.      ingin mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu;
2.      berendah hati bahwa tidak semua pengetahuan kita ketahui dalam kesemestaan yang tak terbatas ini;
3.      mengoreksi diri, berani berterus-terang seberapa jauh kebenaran yan dicari telah kita jangkau.

D. Cabang-cabang Filsafat:
1.      Logika                                                                    7. Pendidikan
2.      Etika                                                                      8. Hukum
3.      Estetika                                                                  9. Sejarah        
4.      Metafisika                                                           10.  Matematika
5.      Politik                                                                  11.  Bahasa
6.      Agama                                                                12.  Ilmu

E. Pengertian Bahasa
1. Aristoteles
Bahasa adalah alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan manusia. Dengan kata lain, pikiran mempengaruhi bahasa karena pikiranlah maka bahasa itu ada.

2. Edward Sapir dan Benyamin L. Whorf (hipotesis Sapir-Whorf)
Bahasa ibu (native language) yang kita kuasai sejak kecil bertindak sebagai kisi-kisi dalam benak kita yang menghalangi pandangan kita dalam melihat dunia luar ketika kita menggunakan bahasa.

3. Leonard Bloomfield (pakar linguisik struktural)
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang-wenang yang dipakai oleh anggota masyarakat untuk bekerja sama dan berinteraksi.

4. Wilhelm von Humboldt (pakar bahasa dari Jerman pada abad ke-19)
Bahasa merupakan suatu sintesis (gabungan) bunyi sebagai bentuk luarnya dan pikiran sebagai bentuk dalamnya.


5. Avram Noam Chomsky (Aliran Trasnformasional)
a. Competence (kemampuan)
Setiap penutur suatu bahasa mempunyai kemampuan untuk menguasai kaidah gramatika bahasanya.
b. Performance (penampilan)
Wujud ujaran
c. Deep structure (struktur dalam/batin)
Struktur yang digambarkan dengan rumus-rumus yakni NP+VP (frase nomina+frase verba).
d. Surface structure (struktur permukaan/lahir)
Struktur yang diwujudkan ujaran.

6. Kridalaksana (1993:21) dan Depdikbud (1997:77)
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Dari batasan bahasa di atas ada lima butir yang penting, yaitu bahwa bahasa itu:
1).       manusiawi (human)
2).       dipelajari (non-instinctive)
3).       sistem (system)
4).       arbitrer (voluntarily produced)
5).       simbol/lambang (symbols)

1). Manusiawi
Hanya manusia yang memiliki sistem simbol untuk berkomunikasi. Makhluk lain, seperti binatang memang berkomunikasi dan mempunyai bunyi, tetapi sistem itu bukanlah kata-kata. Perkembangan bahasa inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya karena manusia diberi kelebihan dalam berpikir.

2). Dipelajari
            Manusia ketika dilahirkan tidak langsung mampu berbicara. Anak harus belajar berbahasa melalui lingkungannya, seperti orang tua.  

3). Sistem
            Bahasa memiliki seperangkat aturan. Perangkat inilah yang menentukan struktur (grammar) apa yang diucapkannya.

4). Arbitrer    
            Manusia mempergunakan bunyi-bunyi tertentu dan disusun dalam cara tertentu adalah secara kebetulan saja.  

5). Simbolik
            Bahasa terdiri atas rentetan simbol arbitrer yang memiliki arti. Kita dapat menggunakan simbol-simbol ini untuk berkomunikasi sesama manusia karena manusia sama-sama memiliki perasaan, gagasan, dan  keinginan. Dengan demikian,  manusia menerjemahkan orang lain atas acuan pada pengalaman diri sendiri. Misalnya, ketika orang lain mengatakan “Saya haus”. Pernyataan tersebut dapat dipahami karena kita pernah mengalami peristiwa haus.

7. Sapir (1921 via Alwasilah, 1985:7-8)
Bahasa adalah:
A purely human and non-instinctive method of communicating ideas, emotions, and desires, by means of a system of voluntarily produced symbols.

F. Pengertian filsafat bahasa
1. Kaelan, 1998:6-7:
  • Bahasa sebagai sarana analisis para filsuf dalam memecahkan, memahami, dan menjelaskan konsep-konsep dan problem-problem filsafat. Dengan perkataan lain, bahasa digunakan sebagai alat analisis konsep-konsep dan masalah-maslah filsafat.
  • Salah satu cabang filsafat yang mengandalkan analisis penggunaan bahasa karena banyak masalah dan konsep filsafat yang hanya dapat dijelaskan melalui analisis bahasa sebab bahasa merupakan sarana yang vital dalam filsafat.

2. Verhaar:
Filsafat bahasa mengandung dua makna yaitu:
(1) Filsafat mengenai bahasa
Bahasa dijadikan sebagai objek berfilsafat, seperti ilmu bahasa, psikolinguistik, sejarah asal-usul bahasa.
(2) Filsafat berdasarkan bahasa.
Bahasa dijadikan sebagai landasan atau acuan dalam berfilsafat. Bahasa dianggap sebagai alat yang dapat mengungkapkan gerak-gerik hati manusia, terutama ia berpikir, bagaimana pandangannya mengenai dunia dan manusia itu sendiri tanpa terlebih dahulu menyusun sistemnya. Dalam hal ini, menurut Verhaar bahasa mengandung dua pengertian; bahasa eksklusif yaitu bahasa komunikasi sehari-hari yang dipakai sebagai pedoman filsafat analitik dan bahasa inklusif yaitu bahasa musik, bahasa cinta, bahasa alam yang dijadikan arahan dalam hermeneutika.

3. Rizal Mustansyir:
Filsafat bahasa adalah penyelidikan secara mendalam terhadap bahasa yang dipergunakan dalam filsafat, sehingga dapat dibedakan pernyataan filsafat yang bermakna dan tidak bermakna.

4. Asep A. Hidayat:
Filsafat bahasa dalam pengertian sebagai ilmu adalah kumpulan dari hasil pemikiran filosof tentang hakikat bahasa yang disusun secara sisitematis untuk dipelajari dengan menggunakan metode tertentu. Sedangkan pengertian filsafat bahasa sebagai sebuah metode adalah metode berfikir secara mendalam, logis, dan universal mengenai hakikat bahasa.

Pertanyaan Filosofis:
Seperti 'kebenaran', 'keadilan', 'kewajiban',  'kebaikan', dan sebagainya.

G. Perbedaan Filsafat Bahasa dengan Linguistik   
Perbedaan filsafat bahasa dengan linguistik adalah lingustik bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Dengan perkataan lain, tujuan akhir dari linguistik adalah mendapatkan kejelasan tentang hakikat bahasa, sedangkan filsafat bahasa memandang kejelasan hakikat bahasa bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual (Poedjosoedarmo, 2001:2).

H. Perbedaan Filsafat Bahasa dengan Filsafat Ilmu Bahasa
            Sebelum melangkah lebih lanjut, alangkah baiknya perlu dibedakan istilah filsafat bahasa (the philosophy of language) dengan filsafat ilmu bahasa/linguistik (linguistic philosophy). Dalam buku The Philosophy of Language  (Searle, 1971: 1) pada bab pendahuluan dijelaskan bahwa:
Linguistic philosophy consists in the attempt to solve philosophical problems by analysing the meanings of words, and by analysing logical relations between words ini natural languages….The philosophy of language consists in the attempt to analyse certain general features of language such as meaning, reference, truth, verification, speech acts, and logical necessity.
Filsafat ilmu bahasa/kebahasaan berupaya untuk memecahkan  masalah-masalah filosofis dengan cara menganalisis makna kata dan hubungan logis antarkata di dalam bahasa.  Sementara itu, filsafat bahasa lebih menekankan pada analisis unsur-unsur umum dalam bahasa seperti makna, acuan (referensi), kebenaran, verifikasi, tindak tutur, dan ketidaknalaran.           

Hubungan antara simbol, konsep, dan acuan digambarkan sebagai berikut (Ogden dan Richards).

                                      referensi atau konsep/makna (thought reference/concept)



simbol/bentuk (symbol)                                                acuan (referent)
                                      meja                                                                                      


Contoh kajian filsafat ilmu bahasa:
“Mengapa sistem morfologi bahasa Arab berbeda dengan bahasa Indonesia?”

I. Tugas Filsafat Bahasa
1.      Bukan membuat pertanyaan tentang sesuatu yang khusus seperti filsafat-filsafat lain, tetapi memecahkan persoalan yang timbul akibat ketidakpahaman terhadap bahasa.
2.      Filsafat bahasa harus dapat menjelaskan "apa yang dapat dikatakan" dan "apa yang tidak dapat dikatakan"

K. Metode Filsafat Bahasa
  Metode filsafat bahasa adalah metode bertanya-kritis terhadap bahasa yang digunakan karena para filsuf analitik menganggap bahwa bahasa filsafat banyak kekaburan/kesamaran (vagueness), ketaksaan (ambuguity), ketidakeksplisitan (inexplicitness), bergantung pada konteks (dependence contex), dan menyesatkan (misleadingness). Hal itu berbanding terbalik dengan pendapat para linguis yang menyatakan bahwa kesamaran dan ketaksaan bahasa tersebut di samping sebagai kelemahan juga sebagai kelebihan bahasa karena bersifat multifungsi, yakni selain berfungsi simbolik, bahasa juga memiliki fungsi emotif dan afektif.

Kelemahan-kelemahan Bahasa:
1). Vaguenes (kesamaran/kekaburan)
Makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Penjelasan verbal tentang aneka warna bunga anggrek tidak akan setepat dan sejelas dengan pengamatan secara langsung tentang aneka bunga anggrek tersebut.
2). Ambiguity (ketaksaan)
Penggunaan sinonimi, hiponimi, homonimi, polisemi, dan homograf.
Contoh:
-          bisa (dapat/sanggup, racun)
-          apel (upacara, nama buah)
-          bunga (kembang, gadis)
-          orang tua (bapak-ibu, orang yang sudah tua)
3). Inexplicitness (tidak eksplisit)
Bahasa sering kali tidak mampu mengungkapkan secara eksak, tepat, dan menyeluruh dalam mewujudkan gagasan yang dipresentasikan.
4). Context dependent (bergantung pada konteks dan situasi)
Pemakaian suatu bentuk sering kali berubah maknanya sesuai dengan konteks gramatik, sosial, serta konteks situasional.
5). Misleadingness (menyesatkan)
Sehubungan dengan keberadaan bahasa dalam komunikasi tentu selalu dapat menimbulkan salah tafsir. Salah tafsir tersebut karena kekacauan semantik dan sirkular (berputar-putar)

L. Objek Filsafat Bahasa
1. Formal
    a. Ontologi (membahas tentang hakikat subtansi dan pola organiasi bahasa).
Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya.
    b. Epistemologi (membahas tentang hakikat objek dan material bahasa)
Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas, dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah), seperti teori koherensi, korespondesi pragmatis, dan teori intersubjektif. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan dipercaya. Metode ilmiah menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghubung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara, sikap, dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubah-ubah dan berkembang.
c. Aksiologi (membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoretis dan kegunaan praktis bahasa).
Aksiologi meliputi nilai nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.

2.      Material
        Bahasa sebagai objek materia filsafat karena filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri.

M. Aliran dalam Filsafat Bahasa
1.    Atomisme logis (logical atomism)
2.    Positivisme logis/empirisme logis (neo positivisme)
3.    Filsafat bahasa biasa (the ordinary language philosophy)

N. Hubungan Filsafat dengan Bahasa
1.      Bahasa merupakan objek materi filsafat sehingga filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri.
2.      Filsafat sebagai suatu aktivitas manusia yang berpangkal pada akal pikiran manusia untuk menanamkan kearifan dalam hidupnya, terutama dalam mencari dan menemukan hakikat realitas dari segala sesuatu, memiliki hubungan sangat erat dengan bahasa terutama bidang semantik.
3.      Dunia fakta dan realitas yang menjadi objek aktivitas filsafat adalah dunia simbolik yang hanya terwakili oleh bahasa.
4.      Ungkapan pikiran dan hasil-hasil perenungan kefilsafatan hanya dapat dilakukan dengan bahasa
5.      Bahasa sebagai media pengembang refleksi filosofis

O. Hubungan Bahasa dengan Metafisika
Metafisika:
1.      suatu cabang filsafat yang membahas secara sistematis dan reflektif dalam mencari hakikat segala sesuatu yang ada di balik hal-hal yang bersifat fisik dan bersifat parikular.
2.      mencari prinsip dasar yang mencakup semua hal yang ada merupakan prinsip dasar yang dapat ditemukan pada semua hal.


Pertanyaan fundamental para filsuf :
Apakah keadilan, kesucian, ruang, waktu, kontradiksi, kebaikan, dan sebagainya.

Sembilan aksidensia Aristoteles:
1.      kuantitas: luas, bentuk, dan berat
2.      kualitas: sifat yang dapat indra
3.      aksi: perubahan (dinamika segala sesuatu yang ada dan yang mungkin terjadi)
4.      passi: penerimaan perubahan
5.      relasi: benda berhubungan dengan sesuatu yang lainnya
6.      tempat
7.      waktu
8.      keadaan: bagaimana sesuatu itu berada pada tempatnya.
9.      kedudukan: bagaimana sesuatu berada di samping sesuatu.

Plato:
"Manakala sejumlah orang menyebut kata yang sama, kita berasumsi bahwa mereka itu juga memikirkan ide yang sama."

Meinong, Filsuf Jerman pada akhir abad ke 19:
Setiap tutur yang bermakna di dalam kalimat tentulah mempunyai referent (acuan). Kalau tidak, tutur itu tidak akan bermakna sehingga ada acuannya. Kalau benda acuan dapat dilihat di sekiar kita, maka tentulah benda itu ada dengan cara keberadaan yang lain.

P. Hubungan Bahasa dengan Logika
Logika adalah studi tentang inference (kesimpulan-kesimpulan). Logika berusaha menciptakan suatu kriteria guna memisahkan inferensi yang sahih dari yang tidak sahih. Karena penalaran itu terjadi dengan bahasa, maka analisis itu bergantung pada analisis statement-statement yang berbentuk premis dan konklusi. Studi tentang logika membukakan kenyataan bahwa sahih dan tidaknya inferensi itu bergantung pada wujud statement, yakni jenis istilah dan bagaimana istilah itu disusun menjadi statement.

Q. Hubungan Bahasa dengan Epistemologi
Epistemologi atau teori ilmu pengetahuan yang menaruh perhatian kepada bahasa dalam beberapa aspek, terutama dalam masalah pengetahuan a priori, yakni pengetahuan yang dianggap sudah diketahui tanpa didasarkan pada pengalaman yang sudah dialami secara nyata.

R. Lingkup Filsafat Bahasa
1.                  Membahas filsafat analitik, baik menyangkut perkembangan maupun konsep-konsep dari para tokonya.
2.                  Penggunaan dan fungsi bahasa.
3.                  Teori makna dan dimensi-dimensi makna (semantik).

Jumat, 22 Januari 2010

Belajar Berbahasa dengan Mempelajari Bahasa

Belajar Berbahasa dengan Mempelajari Bahasa
Oleh: Ening Herniti

Belajar berbahasa Indonesia dengan mempelajari bahasa Indonesia memiliki pengertian yang jauh berbeda. Belajar berbahasa Indonesia ialah belajar menggunakan bahasa Indonesia yang mempunyai tujuan praktis, misalnya: untuk bercakap-cakap dengan orang lain atau agar dapat membaca dan menulis bahasa Indonesia secara baik dan benar. Sementara itu, mempelajari bahasa Indonesia adalah belajar seluk-beluk bahasa Indonesia yang meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Jadi, mempelajari bahasa Indonesia memiliki tujuan teoritis.
Belajar berbahasa Indonesia tidak semudah yang dibayangkan oleh sebagian masyarakat awam. Hal ini terjadi karena berbahasa haruslah pandai menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Berbeda halnya dengan mempelajari bahasa Indonesia yang tidak dituntut mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Misalnya, orang asing mempelajari bahasa Indonesia, maka ia tidak dituntut untuk mampu berbahasa Indonesia.
Penguasaan bahasa seseorang meliputi penguasaan bahasa secara reseptif dan produktif. Penguasaan bahasa reseptif adalah kemampuan memahami pembicaraan/tulisan orang lain. Sementara itu, penguasaan bahasa secara produktif adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa, yakni berbicara, mengarang, menulis. Kemapuan reseptif dibagi menjadi dua, yaitu reseptif lisan dan tulis. Reseptif lisan maksudnya seseorang hanya mempu memahami pembicaraan, tetapi tidak bisa mengatakan dengan bahasa tersebut. Walaupun demikian kemampuan bahasa seseorang keempatnya sering kali tidak sama.
Kuliah bahasa Indonesia yang merupakan MKDU di hampir semua perguruan tinggi adalah belajar berbahasa Indonesia. Tujuan secara umum pembelajaran bahasa Indonesia di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga adalah agar mahasiswa terampil menulis karangan ilmiah dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oleh karena itu, mahasiswa yang mengikuti mata kuliah bahasa Indonesia diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Namun, harapan tersebut sering kali masih mengawan karena mahasiswa kurang memperhatikan dalam pemakaian bahasanya.  Hal ini terjadi ‘mungkin’ sebagian mahasiswa masih menganggap bahasa Indonesia itu mudah dan sebatas mata kuliah tanpa memiliki kewajiban untuk mempraktikkannya. Walaupun demikian, kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, setidaknya dalam proses belajar-mengajar dan dalam penulisan karya ilmiah.
Belajar berbahasa Indonesia dengan mengedepankan kemampuan produktif tulisan sangat menuntut kemampuan mahasiswa dalam bidang teori praktis kebahasaan. Sebelum menulis karangan ilmiah, peserta harus memahami penulisan paragraf yang baik. Paragraf yang baik hanya dapat dirangkai dengan kalimat efektif. Kalimat efektif tidak mungkin terwujud bila tidak mengerti pilihan kata yang tepat sehingga tidak menimbulkan pengertian ambigu. Pemahaman terhadap sinonim, polisemi, homonim, homograf, dan homofon juga turut andil dalam pemilihan kata. Di samping itu, pemahaman terhadap ragam bahasa dan unsur serapan sangat menentukan mahasiswa dalam menulis karangan ilmiah .

Rabu, 07 Oktober 2009

Analisis Materi Teks Bacaan

ANALISIS MATERI TEKS BACAAN
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Oleh: Ening Herniti[1]

A. Pendahuluan
Buku teks pelajaran bahasa Indonesia merupakan media berinteraksi antara peserta didik dengan materi didik. Bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahan ajar seharusnya menggunakan bentuk kata, istilah, kalimat, dan paragraf yang sesuai dengan kaidah bahasa untuk berkomunikasi tertulis. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas) Nomor 11 Tahun 2005, buku teks pelajaran adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, serta potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.
Pemilihan meteri berkaitan erat dengan perencanaan pengajaran secara menyeluruh. Untuk melakukan pemilihan materi itu perlu diketahui tujuan, tingkat, dan waktu yang tersedia. Tujuan mengacu kepada ketercapaian instruksional yang direncanakan; tingkat mengacu pada kesukaran dan kemudahan yang akan tersermin dalam aktivitas belajar bahasa yang sedang dipelajari; sedangkan waktu mengacu pada rentangan durasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan instruksional. Materi itu sendiri telah ada di dalam kurikulum. Misalnya, materi bahasa Indonesia yang terdapat dalam Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan 2006 yang menjadi acuan bagi pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

B.  Kemampuan Berbahasa  
Empat keterampilan berbahasa yang disajikan dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Sebenarnya keterampilan tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu keterampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi keterampilan menyimak dan membaca, serta keterampilan yang bersifat mengungkapkan (produktif) yang meliputi keterampilan menulis dan membaca (Muchlisoh, 1994: 119).
Kemampuan berbahasa seseorang belum tentu mencakup keempat kemampuan tersebut. Seandainya kemampuan berbahasa seseorang mencakup keempat kemampuan tersebut, tingkat kemampuan tiap-tiap aspek tidaklah sama. Seseorang mungkin mampu mendengarkan atau membaca dengan baik, tetapi kurang mampu berbicara dan menulis dengan baik. Kemampuan reseptif seseorang pada umumnya lebih tinggi daripada kemampuan produktif.
Pembelajaran membaca di SD/MI dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelas-kelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I SD/MI dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. (Sri Nuryati, 2007:1-2)


C. Analisis Materi Teks Bacaan
Menurut Badudu (1993: 131) pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di SD–SMU, guru terlalu banyak menyuapi. Siswa kurang dilatih untuk aktif membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Salah satu kesulitan yang dihadapi guru ialah menemukan bahan pelajaran yang cocok bagi para anak didiknya. Kadang-kadang bahan bacaan itu tidak cocok karena kosa katanya, kadang-kadang pula karena struktur kalimat-kalimatnya, atau isinya. Salah satu tugas guru baca yang luar biasa sukarnya ialah menemukan bahan bacaan yang menarik bagi anak-anak yang duduk di kelas-kelas permulaan. Anak-anak yang berasal dari lingkungan yang belum mengenal bahasa Indonesia dengan baik pun merupakan pembawa masalah yang tidak mudah. Mereka memerlukan bahan pelajaran yang secara serempak bisa mengembangkan empat keterampilan berbahasa, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Muchlisoh, 1994:199).
Pembelajaran membaca permulaan di SD/MI mempunyai nilai yang strategis bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa. Pengembangan kepribadian dapat ditanamkan melalui materi teks bacaan (wacana, kalimat, kata, suku kata, huruf/bunyi bahasa) yang berisi pesan moral, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai emosional-spiritual, dan berbagai pesan lainnya sebagai dasar pembentuk kepribadian yang baik pada siswa. Demikian pula dengan pengembangan kemampuan juga dapat diajarkan secara terpadu melalui materi teks bacaan yang berisi berbagai pengetahuan dan pengalaman baru yang pada akhirnya dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan siswa.
Dalam buku teks bahasa Indonesia SD/MI terdapat pesan yang diterima oleh setiap siswa dengan makna yang bisa sama, bisa berbeda. Diperlukan kajian yang lebih cermat agar setiap pesan yang termuat dalam buku teks dapat benar-benar sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional. Teks bacaan pelajaran bahasa Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta sangatlah variatif bergantung pada terbitan mana buku pelajaran tersebut dipakai. Jika dibandingkan dengan buku teks tahun 80-an, buku teks sekarang lebih beragam. Misalnya, pemakaian nama tokoh Budi dalam buku teks tahun 80-an  mengandung filosofi agar siswa tidak hanya pandai, tetapi juga berbudi pekerti luhur. Buku teks terbitan Yudistira memakai nama tokoh Rima. Rima diambil dari istilah sastra rima yang berarti ‘bunyi yang sama atau hampir sama yang terdapat pada awal, tengah, dan akhir kata’. Rima inilah yang membuat sajak menjadi lebih indah. Unsur keselarasan dan keindahan itulah yang menjadi filosofi agar siswa dapat berbahasa dan berkomunikasi secara baik, benar, dan indah. Berbeda lagi dengan buku teks terbitan Erlangga yang memilih nama tokoh Dimas.
Kata sapaan yang dipakai sangatlah beragam. Guru hendaknya menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut. Beberapa contoh pemakaian kata sapaan.
  1. Ibu saya Bu Sinta.
  2. Ini Mama Ila.
  3. Ayah saya Pak Bani.
  4. Ini Papa Opi.
  5. Kakak saya Popi.
  6. Abang saya Ali.
  7. Nenek tinggal di desa.
  8. Ini Oma Lili.
Kata Sapaan
Sinonim
Pemakaian
Mama
Ibu
Kata sapaan Mama bisanya dipakai oleh masyarakat yang berkelas sosial tinggi. Kata sapaan Ibu lebih netral.
Papa
Ayah, Bapak
Kata sapaan Papa bisanya dipakai oleh masyarakat yang berkelas sosial tinggi. Kata sapaan Ayah lebih netral.
Abang
Kakak
Kata sapaan Abang lazim dipakai oleh penutur yang berasal dari Betawi, Bangka atau wilayah sekitarnya. Kata sapaan Kakak lebih netral.
Oma
Nenek
Kata sapaan Papa bisanya dipakai oleh masyarakat yang berkelas sosial tinggi. Kata sapaan Nenek lebih netral.

Pertanyaannya adalah mengapa kata sapaan mas dan mbak tidak muncul dalam buku teks? Kata sapaan mama, papa, dan opa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia termasuk ragam cakapan yang lazimnya kata itu dipergunakan dalam ragam nonbaku. Bukankah buku teks pelajaran bahasa Indonesia seharusnya menggunakan bahasa Indonesia ragam baku?
Kesatuan bahasa yang diucapkan atau tertulis panjang atau pendek dinamakan teks atau discourse. Teks adalah satu kesatuan semantik dan bukan kesatuan gramatikal (Lubis, 1991:21). Artinya, kesatuan bukan bentuknya (morfem, klausa, dan kalimat), tetapi kesatuan artinya. Teks-teks dalam buku pelajaran bahasa Indonesia merupakan sarana yang strategis untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Berikut adalah cuplikan teks dari buku pelajaran bahasa Indonesia kelas III pelajaran 14.
Komputer Ayahku
            Sejak Ayah meninggal, aku benci sekali dengan komputer Ayah itu. Padahal sebelumnya aku senang menggunakannya. Ya, bagaimana tidak benci? Ayahku meninggal justru karena komputer itu. Beliau sampai merelakan nyawanya karena mempertahankan disket rahasia kantornya.
            …………………………………………………………………………dst.
           
            Paragraf di atas seolah-olah menyiratkan bahwa komputerlah yang membunuh ayah si tokoh dalam teks di atas. Si tokoh melemparkan kekecewaan atas meninggal ayahnya pada komputer. Cerita tersebut mirip dengan ajaran para orang tua ketika anaknya jatuh. Orang tua atau pengasuh akan mengatakan, “batunya nakal ya” sambil memukul batu yang tidak bersalah. Secara tidak sadar sebenarnya orang tua telah mengajarkan bahwa jika terjadi sesuatu pada anaknya, orang lainlah yang salah. Mencari kambing hitam ternyata tanpa disadari telah ditanamkan sejak dini.
Seorang guru hendaknya tidak hanya meminta siswa membaca, tetapi juga menjelaskan bahwa bukan karena komputer itu yang membuat ayah si tokoh meninggal dunia. Jika tidak, pesan moralitas itu tidak sampai kepada siswa. Secara psikologis, anak usia kelas III SD/MI belum dapat memahami pesan dalam sebuah teks. Namun hal itu menyisakan pertanyaan. Cukupkah waktu kurang lebih satu untuk membaca, menjelaskan isi teks, menjawab pertanyaan, mengerjakan tugas meringkas, dan menceritakan kembali isi cerita tersebut?
               Teks bacaan bahasa Indonesia untuk SD/MI sebenarnya berkaitan dengan pelajaran lain seperti sejarah (Sultan Hasanudin, asal mula Salatiga, Bangsa Penemu Sabun), IPS (Reog Ponorogo), tetapi mengapa hampir tidak berintegrasi dengan pelajaran agama? Cerita dari entah berantah justru muncul seperti cerita Keledai dan Unta, Sekolah Peri Biru, dan sebagainya. Mengapa anak banyak diberi cerita fiktif daripada kisah nyata? Nama Mickel Jackson saja muncul dalam teks bacaan, tetapi mengapa nama-nama pahlawan kita justru sepi dari buku teks bahasa Indonesia? Jika hal itu terus berlanjut, siswa akan semakin asing dari cerita nyata dan keberanian para pahlawan. 
             
           
D. Penutup
Buku teks merupakan sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan dan ideologi tertentu. Seorang guru haruslah cermat dalam menjelaskan isi teks karena tidak semua siswa dapat memahami kandungan teks tersebut. Guru hendaknya dapat mengelola waktu dengan baik agar siswa tidak hanya mampu menyimak dengan baik, dapat bercerita, lancar membaca, dan dapat menuangkan gagasan dalam bahasa tulis, tetapi juga dapat menyerap pesan-pesan yang disampaikan dalam teks. 
Referensi
Depdikbud. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Lubis, Hamid Hasan. 1991. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Muchlisoh. 1992. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud

Sri Nuryati. 2007. Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Permainan Bahasa di Kelas Awal Sekolah Dasar. Jurnal Sekolah Dasar, (Online), (http://www. Google.com, diakses 26 Oktober 2009).

Suherli. 2008. Bahasa Indonesia dalam Kajian Keterbacaan”. (http://suherlicentre.blogspot.com/2008/10/bahasa-indonesia-dalam-kajian.html, diakses   26 Oktober 2009).


[1] Dosen  Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga